Tidak Dikategorikan

“Langka dan Bersejarah, 30 Dalang Bersatu dalam ‘Rudhal Joglomas’ di Karanganyar”

Karanganyar – Pagelaran wayang kulit dalam rangka Syawalan bertajuk “Rudhal Joglomas” sukses digelar pada Sabtu, 12 April 2026, di Sanggar Dwijo Laras Indonesia, rumah Ki Anom Dwijokangko di Karangasem, Pulosari, Kelurahan Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar.

Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi istimewa dari 30 dalang yang berasal dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Solo, hingga Banyumas. Dalam satu panggung, mereka membawakan lakon “Ampak-Ampak IRAN-nya Bumi”, sebuah lakon wayang carangan karya Ki H. Sukron Suwondo yang mengangkat pesan reflektif tentang hubungan manusia dengan bumi dan kehidupan.

Pagelaran diawali dengan prosesi simbolik berupa penyerahan wayang kepada tiga dalang, yakni Ki Sigid Ariyanto (Rembang), Ki Mangun Yuwono (Pemalang), dan Ki Catur Kuncoro (Yogyakarta) sebagai penanda dimulainya pertunjukan sekaligus simbol kesinambungan tradisi pedalangan lintas generasi.

Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dunia pedalangan dan budaya, di antaranya Ki Purbo Asmoro, Ki Rumiyati Anjangmas, Ki Sudirman Ronggo Darsono, Ki H. Syakirun, serta Gusti Benawa sebagai tamu undangan. Kehadiran mereka menambah khidmat sekaligus memperkuat makna kebersamaan dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, pagelaran semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu sindhen, yakni Apri Mimin, Elisha, dan Eka Kebumen, yang turut menghidupkan suasana melalui olah vokal yang khas dan memikat.

Ketua Rudhal Joglomas, Ki Utoro Widayanto (Sleman, Yogyakarta), menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga sebagai ajang persatuan dan kerukunan para dalang dari berbagai daerah.

Adapun para dalang yang terlibat dalam kolaborasi ini antara lain:

Ki Tri Luwih, Ki Tanut Sutanto, Ki Sigid Ariyanto, Ki Bagong Darmono, Ki Anom Dwijokangko, Ki Cahyo Kuntadi, Ki MPP Bayu Aji, Ki Amar Pradopo, Ki Anggit Laras Prabowo, Ki Susilo Tengkeng, Ki Yusuf Ansor, Ki Kiswan Dwi Nawa Eka, Ki Utoro Widayanto, Ki Gadhing Pawukir, Ki Catur Kuncoro, Ki Agus Hadi Sugito, Ki Gondo Suharno, Ki Surono Purbo Carito, Ki Bambang Wiji Nugroho, Ki Raden Tunjung, Ki Ulum Karto Diwiryo, Ki Setyo Nur Wicaksono, Ki Purwono Sinugiyanto, Ki Bima Setya Aji, Ki Gandik Wayah Sugino, Ki Kukuh Bayu Aji, Ki Mangun Yuwono, Ki Haryo Susilo, dan Ki Yakut Jedher.

Sejak awal hingga akhir, pertunjukan berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Kolaborasi puluhan dalang menghadirkan dinamika yang kaya, baik dari segi sabetan, catur, maupun garap musikal yang saling melengkapi. Penonton yang hadir tampak menikmati setiap sajian yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna.

Selain disaksikan secara langsung, pagelaran ini juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Dwijo Laras Indonesia, Dhalang Seno, dan Channel lainnya sehingga dapat menjangkau penonton yang lebih luas.

Melalui kegiatan ini, pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga menjadi medium refleksi sosial dan penguatan nilai-nilai budaya. Momentum Syawalan dimaknai sebagai ruang silaturahmi sekaligus pengikat persaudaraan antar pelaku seni tradisi di tengah perkembangan zaman. (Sgd-2026)

0 comments on ““Langka dan Bersejarah, 30 Dalang Bersatu dalam ‘Rudhal Joglomas’ di Karanganyar”

Tinggalkan komentar