Tidak Dikategorikan

Rudhal Joglo Menggema di Pendopo Yudaningrat

30 Dalang, 3 Kelir, Kolaborasi Wayang Kulit Semalam Suntuk Nge-Boom Yogyakarta

Yogyakarta — Pergelaran wayang kulit kolaboratif bertajuk “Rudhal Joglo” sukses memukau publik dalam pertunjukan semalam suntuk di Pendopo Yudaningrat, Yogyakarta, Sabtu malam (14/3/2026). Pertunjukan yang menghadirkan 30 dalang dengan tiga kelir sekaligus ini menjadi salah satu peristiwa budaya yang menyita perhatian para pecinta wayang di Yogyakarta.

Acara yang digagas oleh komunitas Rukun Dhalang Jogja–Solo ini dikoordinatori oleh Ki Utoro Widayanto, dalang asal Sleman. Pergelaran tersebut mengangkat lakon “Semar Sanggan”, kisah yang sarat pesan kebijaksanaan dan filosofi kehidupan dalam tradisi pedalangan Jawa.

Pergelaran dibuka dengan prosesi simbolis berupa penyerahan tokoh wayang Semar dan Gunungan dari Gusti Yudaningrat kepada tiga dalang, yakni Ki Bagong Darmono, Ki Gondo Suharno, dan Ki Utoro Widayanto. Prosesi ini menjadi penanda dimulainya pertunjukan sekaligus simbol dukungan terhadap pelestarian seni pedalangan.

Sepanjang pertunjukan, konsep kolaborasi menjadi daya tarik utama. Dalam setiap adegan, tiga dalang tampil secara bersamaan di tiga kelir dengan durasi sekitar 20 menit setiap sesi. Pola ini menciptakan dinamika pertunjukan yang unik, di mana ragam gaya sabetan, catur, dan karakter pedalangan dari para dalang berpadu dalam satu panggung besar.

Pergelaran ini juga diiringi oleh karawitan gabungan para seniman Yogyakarta, menghadirkan suasana musikal yang kuat dan harmonis sepanjang pertunjukan. Iringan gamelan yang hidup semakin memperkuat atmosfer dramatik sekaligus menjaga ritme pakeliran dari awal hingga akhir.

Dukungan terhadap acara ini juga datang langsung dari Gusti Yudaningrat, yang hadir dan mirsani jalannya pertunjukan hingga tanceb kayon. Kehadiran beliau menjadi bentuk apresiasi terhadap upaya para dalang dalam merawat dan mengembangkan tradisi pedalangan.

Selain itu, sejumlah seniman dan seniwati Yogyakarta turut hadir menyaksikan pergelaran tersebut, di antaranya seniman senior Bu Yati Pesek bersama para tokoh seni lainnya.

Salah satu dalang yang tampil, Ki Sigid Ariyanto, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti bahwa wayang kulit tetap memiliki daya hidup yang kuat di tengah masyarakat.

“Wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang menyimpan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya.

Antusiasme penonton yang bertahan hingga akhir pertunjukan menunjukkan bahwa seni pedalangan masih memiliki tempat penting di hati masyarakat. Sorak dan tepuk tangan beberapa kali terdengar ketika adegan-adegan menarik dimainkan oleh para dalang.

Pergelaran Rudhal Joglo dengan konsep 30 dalang dan tiga kelir ini pun menjadi bukti bahwa kolaborasi kreatif mampu menghadirkan energi baru bagi dunia pedalangan. Pertunjukan tersebut sukses menghadirkan malam budaya yang meriah dan disebut-sebut sebagai salah satu pergelaran wayang kulit yang “nge-boom” di Yogyakarta. (Sgd-26).

0 comments on “Rudhal Joglo Menggema di Pendopo Yudaningrat

Tinggalkan komentar